Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Proses Kimia Yang lebih Aman & Efisien Dengan Jenis Reaktor Baru


ini mampu melakukan hal lebih baik dibandingkan dengan reaktor konvensional yang ada saat ini, namun selama ini kami tak menyangkanya bahwa dia mampu melakukannya dengan lebih baik,” tutur Meeuwse
Secara gampangnya cara kerja reaktor ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Gas di umpankan ke dalam reaktor melalui dasar silinder dimana sebuah disc berputar ada tepat diatasnya. Gelembung gas akan terpecah saat gas melalui liquid yang berputar yang dilaluinya.
“Semakin cepat kecepatan berputarnya maka semakin kecil gelembung yang terbentuk sehingga luar areanya akan semakin besar. Inilah yang menyebabkan konversi laju reaksinya menjadi lebih tinggi begitu pula dengan transfer massanya,” ungkap Meeuwse menjelaskan.
Meeuwse juga berhasil menyusun disc ini dalam suatu rangkaian. Tiga buah disc dengan diameter 13 cm disusun dalam satu poros. Dia mengungkapkan jika setiap disc dapat melakukan hal yang sama maka total massa yang dapat dilakukan dalam rangkaian ini akan menjadi tiga kali lebih besar dan inilah kehebatannya.
Keuntungan lain dari reaktor ini adalah dalam segi keamanannya. Menurut dia reaktor ini lebih aman sebab ukurannya yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan reaktor yang umum dipergunakan.
“Manfaat lain dari reaktor ini adalah lebih aman di bandingkan dengan reaktor konvensional disebabkan ukurannya yang jauh lebih kecil, dan ini merupakan manfaat terbesar dari reaktor tersebut,” pungkasnya.


Hepatoselular carcinoma merupakan sel kanker yang umumnya menyerang liver. Lebih dari 500.000 orang yang mendiami daerah sub-Sahara di Afrika dan Asia Tenggara didiagnosa menderita kanker jenis ini tiap tahunnya. Dan sayangnya kebanyakan mereka berakhir dengan meninggal dunia 6 bulan setelah dinyatakan positif.

Velociraptor's last meal revealed

An artist's impression of the Velociraptor feeding (c) Brett Booth

The bone of a large flying reptile has been found in the gut of a Velociraptor, sparking fresh discussion among palaeontologists.
Velociraptors have previously been described as "hyper predators".
However, scientists suggest this pterosaur was too large to be the Velociraptor's intended prey but could have been scavenged.
The findings are published in the journal Palaeogeography, Palaeoclimatology, and Palaeoecology.

Penemuan Protein Berusia Sangat Panjang


Para ilmuan menemukan kalau protein tertentu, yang disebut protein berusia sangat panjang (extremely long-lived proteins – ELLP), yang ditemukan di permukaan inti sel syaraf, memiliki rentang usia sangat panjang.
 Sementara rentang hidup sebagian besar protein hanya dua hari atau kurang, para peneliti Lembaga Salk menemukan ELLP dalam otak tikus sama tuanya dengan organisme tersebut, temuan yang mereka laporkan tanggal 3 Februari 2012 dalam jurnal Science.
Para ilmuan Salk adalah yang pertama menemukan mesin intrasel esensial yang komponennya mencakup protein setua ini. Hasil mereka menunjukkan kalau protein tersebut hidup sepanjang usia individu, tanpa digantikan.
 ELLP menyusun saluran transport di permukaan inti sel; gerbang yang mengendalikan bahan apa yang masuk dan keluar. Usianya yang panjang mungkin menguntungkan jika tidak untuk kerusakan dan kerobekan yang dirasakan protein ini seiring waktu. Berbeda dengan protein lain di tubuh, ELLP tidak digantikan ketika mereka mengalami perubahan akibat modifikasi kimia dan kerusakan lainnya.


Fenomena ini, yang disebut bioluminesensi, diamati, diantaranya, pada beberapa bakteri laut yang memancarkan cahaya tetap segera mereka mencapai tingkat konsentrasi tertentu (fenomena yang disebut “penginderaan kuorum”) pada partikel organik di air samudera. Walaupun hal ini diketahui, manfaat menghasilkan cahaya masih belum jelas.
Sekarang, dalam sebuah artikel yang baru diterbitkan dalam  Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), para peneliti dari Universitas Hebrew Yerusalem mengungkapkan misteri mengapa bakteri laut berpendar. Ini ada hubugannya dengan kelangsungan hidup yang paling terang.

Mamot Akan Dihidupkan Kembali

MamotSebuah tim peneliti akan mencoba untuk membangkitkan spesies mamot tersebut dengan menggunakan teknologi kloning setelah mendapatkan jaringan hewan purba tersebut musim panas ini dari bangkai mamot yang dijaga di laboratorium mamot Rusia. Teknik untuk mengekstrak DNA dari sel-sel beku sudah ditemukan.

"Persiapan untuk merealisasikan tujuan ini telah dilaksanakan," kata Prof. Akira Iritani, ketua tim peneliti tersebut dan seorang pensiunan profesor terhormat dari Universitas Kyoto.

Cacing yang Bercabang seperti Akar




Christopher Glasby dari Museum and Art Gallery of the Norther Territory di Darwin, Australia, menemukan spesies baru cacing yang dinamai Ramisyllis multicaudata. Ia sebenarnya adalah spesies yang mudah ditemukan, tetapi cacing ini sulit dibedah untuk diidentifikasi karena sangat rapuh.
Spesies cacing tersebut ditemukan di rongga hewan spons jenis Petrosia. Cacing yang ditemukan unik karena memiliki bentuk yang mirip akar, punya struktur serupa rambut halus, dan bercabang. Seiring pertumbuhan, cacing semakin bercabang. Setiap cabang tumbuh mengikuti rongga di dalam spons. Sub cabang juga bisa muncul dari sebuah percabangan.
Hingga sejauh ini, ilmuwan belum makanan spesies ini. Ada kemungkinan cacing ini memakan spons, tetapi bisa juga menyerap molekul organik di sekitarnya lewat permukaan kulit. Hubungan antara spons dan cacing belum diketahui secara jelas. Bisa jadi, cacing adalah parasit. Tetapi, ada kemungkinan bahwa cacing membantu spons tumbuh.
Sementara itu, ilmuwan mengatakan bahwa percabangan membantu cacing bereproduksi. Di ujung cabang, tonjolan akan muncul. Setiap individu bisa memiliki 100 cabang di mana individu bisa tumbuh.
Ramisyllis multicaudata bukan satu-satunya cacing bercabang yang ditemukan. Sebelumnya, terdapat spesies Syllis ramosa yang ditemukan di Filipina. Sejauh ini, baru ada dua spesies cacing bercabang yang ditemukan. Namun, ilmuwan meyakini bahwa ada lebih banyak lagi spesies serupa.
"Sangat mungkin bahwa keragaman cacing bercabang jauh di atas perkiraan karena kesulitan dalam menemukan dan mengoleksinya," kata Glasby

Bulan, Penyebab Tenggelamnya Titanic


Setiap orang yang mengetahui sejarah atau telah melihat film blockbuster mengenai kapal tersebut tahu bahwa penyebab kecelakaan kapal trans-Atlantik itu 100 tahun lalu adalah kapal menabrak gunung es.
"Namun, hubungan Bulan mungkin menjelaskan bagaimana sangat banyak gunung es berada di jalur Titanic," kata Donald Olson, ahli fisika di Texas State University yang tim ahli astronomi forensiknya meneliti peran Bulan.